Usia 25

Usia 25 bukanlah usia yang kanak-kanak lagi, namun juga belum tua. 
Aku sebut usia dimana tahap matang berfikirku berada.

Usia 25, membuatku mengerti berbagai konsep hidup yang sebelumnya tidak pernah tersadari olehku.

Yang pertama, bekerja itu adalah sarana, bukan tujuan. 
Aku kerja punya uang, bukan tujuanku. 
Tetapi adalah saranaku untuk lebih dekat terhadap passionku.
Aku bisa beli alat musik yang aku mau untuk belajar, ambil les yang aku minati, ikut kelas gym, investasi di intrumen yang aku tertarik untuk belajar, yang dulu sebelumnya aku tidak bisa ambil karena tidak ada penghasilan.

Yang kedua, berbagi itu membuat bahagia. 
Semenjak berpenghasilan, aku sebisa mungkin memberi apa yang telah aku hasilkan untuk orang lain. Dan itu membuatku lega dan bahagia.
Jadi teringat, Nenekku suka berbagi apapun dengan siapapun, terlebih saudara-saudaranya. 
Saat pulang kampung ke kota kelahirannya, beliau selalu membawakan makanan untuk setiap orang yang ada disana. Hingga aku pernah bilang "Gausah dipaksa, bawa oleh-oleh untuk keluarga deket aja."  Tapi Nenekku tetap membawakan untuk semua. 
Mamaku juga begitu, beliau orang yang menurutku sangat suka berbagi apapun itu. Akupun juga pernah bilang "Ngapain sih?"
Terus tibalah aku merantau hidup sendiri dan ternyata kalau kita punya uang, kita maunya berbagi aja selama kita mampu.
Hati terasa lega setelah berbagi.

Yang ketiga, menikah. 
Aku bersyukur banget bahwa aku belum menikah hingga usia ku sekarang ini. 
Karena konsep pernikahan baru aku cerna secara matang di usia 25. Kematangan berfikir serta emosionalku benar-benar baru aku temui di usia 25.

Di usia 25 ini aku sadar, bahwa aku belum mati.
Gairahku masih membara untuk belajar hal-hal baru. 
Semangatku masih menggebu untuk meraih mimpi-mimpiku yang dulu sempat terlupakan karena keadaan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dan ini pun akan berlalu

Di atas meja bilyar aku melepaskan dia yang lalu

Aku akan Bersedih dengan Khidmat