Postingan

Menampilkan postingan dengan label Inspirasi

Sampai Sini, Lupa - Sebuah Catatan Kebersyukuran

Beberapa hari lalu, aku pijat. Dan ngobrol banyak dengan tukang pijat tersebut. Obrolan itu bikin aku ingat sesuatu. Begini ceritanya ... Selama ini, bisa dibilang, aku itu orang yang sakit-sakitan. Aku asmatik. Dalam satu minggu, aku gak pernah absen untuk tidak sakit, minimal masuk angin. Mau pagi, siang, malam, kalau keluar rumah harus selalu pakai jaket yang tebal. Mau naik motor ataupun naik mobil.  Aku juga gak kuat sama sekali di ruangan ber ac.  Pergi jauh dikit, capek. Kecapekan dikit, sakit.  Kedinginan atau kepanasan dikit, sesak nafas. Pernah suatu ketika aku makrab fakultas ke Kaliurang. Saat malam tiba, aku di sana sama sekali gak bisa nafas. Hidungku mampet total. Aku nafas lewat mulut. Gak bisa tidur. Kedinginan. Sejak saat itu, aku jadi tau,  Oke nih, aku punya riwayat sakit. Limitku segini, Pencetusnya ini, ini, ini Penanganannya seperti ini, ini, ini.  Obatnya ini, ini, ini. Part II Singkat cerita, Ayah dari sahabatku Anggoro, Pak Budi namanya...

Sebuah Perbincangan Malam dengan Seorang Sahabat, Alunan Musik di Coffee Shop, dan Tepi Pantai Tanjung Pendam

Gambar
Seorang sahabat baru saja mengabarkan bahwa hidupnya telah kembali menyala semenjak perbincangan kami semalam.  Dan, Diriku yang kesepian menjadi penuh kembali karena alunan musik instrumental dari sebuah coffee shop . Perasaan bahagia macam apa ini, Mendengar sahabatku kembali bersinar karena sebuah obrolan via whatsapp waktu malam.  Perasaan telah berkontribusi dalam hidup seseorang. Rasanya sangat bahagia. 

Kereta Menuju Jakarta Merubah Segalanya

Gambar
Tidak kusangka perjalanan kembali ke perantauan setelah mudik lebaran dengan menggunakan transportasi kereta benar-benar merubah kehidupanku.  Ya, babak baru hidupku baru saja dimulai.  Dari sekian banyak transportasi yang bisa ku gunakan, aku memilih kereta.  Sebetulnya bisa saja aku melakukan penerbangan langsung dari Surakarta menuju Tanjung Pandan, lebih cepat juga, namun entahlah pada saat itu aku hanya ingin menaiki kereta.  Benar saja, feelingku menuntunku kepada perubahan hidupku. Di dalam kereta 8 jam perjalanan dari Stasiun Klaten menuju Stasiun Pasar Senen Jakarta aku melakukan aktivitas yang sangat jarang aku lakukan, bahkan baru kali itu aku melakukan hingga tuntas. Yaitu, membaca buku. Ya, aku membaca sebuah buku lawas kepunyaan almarhum nenekku yang kubawa dari rumah. Buku itu sangat menarik, membuatku terbuai tidak terasa selesai saja dalam perjalananku menuju Jakarta. Kurang lebih 100 halaman kubaca hingga tuntas.  Untuk manusia yan...

Fase

Dunia ini tak kekal.  Semua hal berubah.  Segala yang kita lalui hanyalah fase demi fase yang hendaknya mendewasakan kita.   Menempa kita untuk menjadi manusia yang semakin baik dari hari ke hari. Kenapa hendaknya?  Karena hanya manusia sendirilah yang mampu memaknai fase demi fase didalam hidupnya.

Berada dalam Kesadaran Penuh

Aku suatu waktu pernah berdo'a, "Ya Tuhan jika Engkau melihat didepan usiaku tidak lebih bermanfaat daripada hari ini, maka usaikan saja sekarang." Namun, tidak lama sejak aku berdo'a tersebut, banyak hal terjadi dalam kehidupan batiniahku.  Cara memandang kehidupan dan bagaimana menjalani hidup sebagai mahluk yang beragama berubah 180°. Sungguh akupun tidak tahu bagaimana hal ini bisa aku sadari sebegitu cepatnya. Dalam konteks yang lebih baik dan taat. Sungguh, tidak ada yang tahu kapan Tuhan menjamah hati hambanya. Hingga sejujurnya aku yang sungguh keras hati ini  bisa melunak begini.  Aku secara khusus sangat berterima kasih kepada Para Bhikku, terutama Bhante Uttamo Mahathera. Aku selalu mendengarkan ceramah beliau-beliau di berbagai platform.  Ceramahnya bukan hanya sekedar menasehati tapi membuat kita memahami sesuatu hal. Menyampaikan dengan cinta kasih, sangat menenangkan Aku menemukan pemahaman bahwa beribadah dan berbuat kebaikan dan berlaku dalam kebenar...

Penggaris Bahagia

Gambar
Mengukur kebahagiaan dan kesuksesan seseorang berdasarkan materi yang dihasilkannya rasanya cukup dangkal.  Dunia ini adalah semesta yang kompleks. Tidak ada penggaris yang benar-benar pas untuk mengukur keadaan satu mahluk dengan mahluk yang lain. Itulah sebab mengapa setiap saya mulai menilai orang lain berdasarkan kebendaan yang dia miliki, rasanya benar-benar dangkal dan memalukan.  Manusia lebih dari hal-hal itu. Ya, kita butuh uang untuk hidup. Namun saya percaya manusia lebih dari itu.  Be wise and grateful. 

Sudah gagal apa hari ini?

Gambar
Saya ingat ketika saya kecil, saya itu belajar berbagai hal, entah itu belajar bersepeda lalu terjatuh, belajar menendang bola lalu terpleset, saya selalu coba lagi hingga berhasil. Orang tua saya juga selalu mengajari dan menyemangati untuk coba lagi. Sebagai anak kecil yang memiliki semangat untuk mencoba hal-hal baru, saya selalu bersemangat dan jika saya melakukannya gagal saya coba lagi sampai bisa.  Namun ketika beranjak remaja hingga dewasa, kita sering kali malah menjadi takut untuk salah dan gagal.  Bukan karena apa-apa, wajar saja, karena sistem pendidikan kita menuntut siswa itu menjadi sempurna, tidak pernah salah dan tidak boleh gagal. Saya ingat betul ketika saya SD saat pelajaran IPS. Ada seorang guru yang bertanya dihadapan kelas, menanyakan sebuah pertanyaan tentang sejarah dan menyuruh siswa yang tahu untuk tunjuk tangan.  Saat itu tidak ada satupun yang berani tunjuk tangan, saya tunggu teman-teman saya tidak ada yang angkat tangan, lalu say...

Bunga-bunga akan mekar pada waktunya masing-masing

Gambar
Ada fase hidupku dimana aku merasa sangat terpuruk. Usia belasan sudah dipatahkan oleh dunia dan seisinya.  Mimpi-mimpi yang kurangkai sejak sekolah, terhempas begitu saja, tidak tersisa. Waktu itu hidupku seperti terjun bebas ke dasar jurang.  Tidak ada yang menolongku, aku terjerumus sendirian, tidak tahu bisa bangkit atau tidak. Di saat itu aku benar-benar hanya hidup saja. Merasa kosong, merasa hampa, merasa hidup ini tidak berguna. Aku punya keluarga tapi tidak ada satupun yang bisa kulakukan, aku tidak bisa mengungkapkan apapun, terdiam seperti mayat. Aku benar-benar hancur saat itu. Wajahku bisa tersenyum, tertawa. Namun jauh didalam diriku, aku sangat hancur. Benar-benar tidak tahu harus apa.  Tidak ada yang memandu, tidak bisa mengeluarkan segala apa yang ada didadaku ini, karena ceritapun mereka tetap tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi kepadaku. Dan mereka juga tidak bertanya. Itu adalah tahun-tahun yang sangat berat bagiku. Aku tidak punya t...

Lebih baik dari Aku yang dulu

Gambar
Setiap manusia dikaruniai Tuhan dengan berbagai macam talenta yang berbeda.  Tetapi sayangnya, banyak orangtua tidak bisa menerima itu. Mereka beranggapan bahwa anak harus menjadi sesuatu yang mereka inginkan, tanpa mau tahu, apa sebenarnya minat dari si bocah.   Saya ingat betul ketika setelah wisuda belum mendapatkan kerja.  Rasanya sangat stress, orangtua mendesak untuk melamar ini melamar itu. Padahal saya juga sudah memasukkan banyak lamaran pekerjaan, namun belum rezekinya. Share lowongan kerja setiap hari di grup keluarga, hingga mual rasanya untuk membaca.  Karena pada dasarnya orang jika suka dan berminat pada sesuatu akan melakukan itu tanpa disuruh sekalipun.  Hingga tiba disuatu hari, saya scrolling twitter. Dan saya baca lowongan pekerjaan yang menggugah saya untuk buru-buru melamarnya. Karena saya yakin betul terhadap ini. Tanpa keraguan sedikitpun saya memasukan lamaran dan ambil kesempatan itu. Kondisi saat saya menemukan loker ...

Usia 25

Gambar
Usia 25 bukanlah usia yang kanak-kanak lagi, namun juga belum tua.  Aku sebut usia dimana tahap matang berfikirku berada. Usia 25, membuatku mengerti berbagai konsep hidup yang sebelumnya tidak pernah tersadari olehku. Yang pertama, bekerja itu adalah sarana, bukan tujuan.  Aku kerja punya uang, bukan tujuanku.  Tetapi adalah saranaku untuk lebih dekat terhadap passionku. Aku bisa beli alat musik yang aku mau untuk belajar, ambil les yang aku minati, ikut kelas gym, investasi di intrumen yang aku tertarik untuk belajar, yang dulu sebelumnya aku tidak bisa ambil karena tidak ada penghasilan. Yang kedua, berbagi itu membuat bahagia.  Semenjak berpenghasilan, aku sebisa mungkin memberi apa yang telah aku hasilkan untuk orang lain. Dan itu membuatku lega dan bahagia. Jadi teringat, Nenekku suka berbagi apapun dengan siapapun, terlebih saudara-saudaranya.  Saat pulang kampung ke kota kelahirannya, beliau selalu membawakan makanan untuk setiap orang yang a...

Kebaikan Orang Tua

Gambar
Entah amalan kebaikan apa yang telah dilakukan kedua Orangtuaku dan Kakek Nenekku dimasa lampau, sehingga hidupku diperantauan ini tidak pernah sekalipun merasa sulit. Hidup kujalani dengan ringan dan enak. Walaupun aku jauh dari orang tua dan keluarga.   Disaat banyak orang struggling  di perantauan tetapi aku hidup dengan baik di perantauanku.  Aku mendapat tempat tinggal yang layak, lingkungan kerja yang sangat baik dan positif, tidak toxic.  Pikiranku juga jauh lebih berkembang ke arah yang lebih baik, Ide selalu saja muncul. Memang, bekerja tidak selalu mudah tapi ini jauh lebih baik daripada aku yang dulu.  Aku sudah bertumbuh jauh lebih baik daripada aku sebelumnya. Dan aku akan tetap melanjutkan proses tumbuhku untuk ke arah kemajuan.