Sampai Sini, Lupa - Sebuah Catatan Kebersyukuran
Beberapa hari lalu, aku pijat. Dan ngobrol banyak dengan tukang pijat tersebut.
Obrolan itu bikin aku ingat sesuatu.
Begini ceritanya ...
Selama ini, bisa dibilang, aku itu orang yang sakit-sakitan. Aku asmatik.
Dalam satu minggu, aku gak pernah absen untuk tidak sakit, minimal masuk angin.
Mau pagi, siang, malam, kalau keluar rumah harus selalu pakai jaket yang tebal. Mau naik motor ataupun naik mobil.
Aku juga gak kuat sama sekali di ruangan ber ac.
Pergi jauh dikit, capek.
Kecapekan dikit, sakit.
Kedinginan atau kepanasan dikit, sesak nafas.
Pernah suatu ketika aku makrab fakultas ke Kaliurang. Saat malam tiba, aku di sana sama sekali gak bisa nafas. Hidungku mampet total. Aku nafas lewat mulut. Gak bisa tidur. Kedinginan.
Sejak saat itu, aku jadi tau,
Oke nih, aku punya riwayat sakit.
Limitku segini,
Pencetusnya ini, ini, ini
Penanganannya seperti ini, ini, ini.
Obatnya ini, ini, ini.
Part II
Singkat cerita, Ayah dari sahabatku Anggoro, Pak Budi namanya, memberi masukan kepadaku terapi untuk meringankan sakit asmaku.
Aku disarankan untuk mencoba terapi dengan bikin ramuan sendiri, diminum tiap pagi. Beliau menambahkan, jika itu terlalu ribet, ada hal yang lebih mudah lagi, coba mandi jam setengah 2 pagi. Air jam segitu bagus untuk kesehatan. Kata beliau seperti itu.
Ya, pada saat aku diberi masukan seperti itu. Aku tidak langsung melaksanakan.
Untuk pilihan pertama, kalau untuk ramuan, aku kurang telaten untuk meracik jamu dan sudah di tahap, "yah, asma kayaknya gak akan sembuh deh."
Untuk pilihan kedua, "yakalik???" Aku mandi di jam 7 malam saja sudah sesak napas apalagi jam 2 pagi.
Aku sudah skeptis duluan.
Setahun berlalu, Tahun 2020,
Aku selesai sidang skripsi, banyak waktu luang dan aku masih dalam kondisi sakit-sakitan.
Aku lalu berfikir, aku gak bisa nih seperti ini terus. Sakit-sakitan, gak bisa kemana-mana,
Gimana aku mau kerja kalau seperti ini?
Saran Pak Budi setahun lalu masih ada dibenakku.
Tertarik untuk mencoba saran tersebut.
Lalu aku mulai browsing tentang mandi yang tepat jam berapa, apakah air jam segitu baik untuk kesehatan, aku cari artikel, jurnal dan riset untuk memastikan saran tersebut.
Dan aku menemukan beberapa artikel dan jurnal yang menguatkan saran tersebut.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk mandi pukul 01.30 dini hari.
Aku mencari waktu dimana kondisi tubuhku dalam keadaan fit betul, dan aku sudah siapkan obat-obatan lengkap. Aku sudah siap mental kalau abis mandi aku langsung sesak atau sakit.
Aku nothing to lose aja mencobanya.
Mandilah aku jam setengah dua pagi.
Wow ... Gilak !!!
Air itu benar-benar segar. Aku gak merasa kedinginan sama sekali
Aku bukan mandi yang sebentar. Aku mandi seperti biasanya.
Setelah selesai mandi, aku gak merasakan sesak, aku gak merasa dingin. Benar-benar yang ada hanya rasa segar dan sejuk.
Lalu, aku tidur.
Paginya, aku rasakan badanku betul-betul enak banget. Alhamdulillah banget. Keren sih.
Setelah aku merasakan efek yang signifikan di kesehatanku, seminggu kemudian aku mandi lagi, dan mandi lagi. Jadi, selama kurang lebih 3 bulan aku rutin mandi jam setengah 2 pagi.
Setelah mandi tersebut, bahkan sejak dari pertama kali mandi, secara ajaib, aku sudah jarang sejarang-jarangnya sesak nafas.
Aku bisa pakai jaket tipis, bahkan aku main sampai malem bisa pakai jaket tipis. Yang mana, dulu, itu adalah hal yang gak aku lakukan karena aku pasti akan sakit.
Sejak saat itu, hidupku benar-benar berubah. Aku sudah gak sakit-sakitan lagi. Terlebih untuk urusan pernafasan dan kedinginan. Aku bener-bener bersyukur banget. Aku akhirnya bisa merasakan kebebasan. Definisi bakoh yang sesungguhnya. Ada momen dimana aku sampai nangis karena bersyukur banget atas kesehatan yang telah diberikan Tuhan untukku. Bagiku ini sebuah keajaiban luar biasa.
Tidak lama setelah itu aku lalu pergi ke Belitung.
Beruntung banget kemarin aku ngobrol dengan tukang pijat itu dan jadi mengingat kembali bahwa dulu kesehatan tuh jadi masalah utama loh buatku. Yang membuatku kurang leluasa untuk bisa kemana-mana.
Sebuah kebersyukuran luar biasa yang harus dirayakan dan diingat kembali bahwa sekarang bisa kuat kemana-kemana.
Bukannya sekarang sudah bisa ngapa-ngapain, berdikari kemana-mana, lalu jadi lupa deh sama nikmatnya dulu waktu pertama kali merasakan kenikmatan dan kemerdekaan bisa sehat kemana-mana.
Januari tahun 2023 baru berjalan 13 hari dan Alhamdulillah aku sudah menempuh penerbangan dan perjalanan darat sejauh ±2000 KM, yang 2 tahun lalu mustahil aku lakukan.
Tulisan ini juga bentuk terima kasihku kepada keluarga sahabatku, Anggoro, Ayah, Ibu dan Kakak-Kakaknya yang sangat baik. Dan berjasa banget untuk hidupku.
Mungkin kalau aku nggak kenal Anggoro dan keluarganya, aku masih di situ-situ aja berkutat di penyakit yang aku pikir gak akan ada penawarnya.
Tulisan ini sebagai pengingat diriku bahwa kesehatan adalah berkah dan kebersyukuran luar biasa untukku.
Misal, di waktu lain aku ada masalah, itu gak ada apa-apanya dibandingkan kesehatanku.
Yang penting sehat. Itu sudah luar biasa berkat yang tak terhingga.
Masalah apapun bisa dicari solusinya asalkan kita sehat.
Komentar
Posting Komentar