Memahami Spiritual dengan Konsep Buddha

Manusia itu egois. 
Mereka akan selalu berusaha memikirkan dirinya sendiri.
Dan sebetulnya jika memang begitu, tidak akan ada manusia yang berani berbuat jahat, karena mereka tahu itu akan merugikan dirinya sendiri.

Tetapi dalam penyampaian di agama kita, banyak yang menggunakan pendekatan dengan cara penghakiman dan penghukuman daripada memberi pemahaman.

Padahal manusia jika ia paham dengan sesuatu. Dia akan melakukannya karena mengerti dan paham, bukan karena paksaan.

Singkat cerita, beberapa waktu ini saya mendalami spiritual lewat jalan mendengarkan ceramah buddha. 
Dan konsep dhamma sangat masuk di saya. 
Biksu/bhante yang berceramah sangat menentramkan. Mereka menjelaskan dengan cinta kasih, tanpa amarah, tanpa menyalahkan. Benar-benar membuat saya tenang ketika mendengarkan. 

Konsep Buddha Dhamma ini mengajarkan kita tentang kebenaran absolut, berbuat kebaikan dan menjaga kemoralan. 

Yang pertama, segala yang kita lakukan yang baik ataupun buruk semua akan kembali ke diri kita sendiri. 
Jika kita berbuat kebajikan (benar, baik, dan bermoral) konsekuensi masuk surga akan semakin besar. Begitupun jika kita berbuat jahat konsekuensi masuk neraka juga akan makin besar.

Yang kedua, segala sesuatu tak kekal. Menjadi tua, sakit, dan mati adalah kewajaran. Semua pasti akan mengalami itu. Perubahan, perpisahan, tua, sakit ataupun kematian tidak dapat terhindarkan.

Yang ketiga, ini adalah yang paling menyentuh ego saya sebagai manusia. Yaitu, kemelekatan adalah sumber penderitaan. Dan melepaskan adalah kebahagiaan. Semakin sedikit kemelekatan, semakin banyak kebahagiaan.

Ya, tentu, saya sebagai manusia tidak mau menderita. 
Dan konsep kemelekatan adalah sumber penderitaan ini sangat menarik untuk saya coba. Dan sudah saya praktekan. 
Ketika kita mau membebaskan, melepaskan apa yang membuat kita menderita di hati kita, kita jadi benar-benar bebas dan lebih bahagia. 

Sebagai manusia pasti saya ada masalah-masalah batin yang saya pendam di hati saya entah itu dendam, kebencian, kemarahan, ke-aku-an, rasa kepemilikan atau apapun itu. Dan ketika saya membebaskan itu, melepaskan itu dan menerima itu semua dengan lapang dada, sungguh itu sangat membuat hati dan hidup saya jauh lebih baik dan bebas.

Tetapi sungguh ini benar-benar sangat membebaskan hati saya dalam segi apapun. 
Ketika kita berusaha untuk selalu berada dijalan kebenaran, berbuat kebaikan, dan menjaga kemoralan tidak melakukan maksiat.
Benar-benar rasanya tenteram. Kita tidak akan takut menghadapi apapun.
Menjadi lebih menerima apapun kenyataan yang terjadi. 
Misalnya di masa lalu kita pernah melakukan salah dan dosa, ya gapapa, diakui saja, memang kenyataannya seperti itu, gak masalah. 
Hidup yang kita punya hari ini adalah momentum untuk kita memperbaiki yang lalu dan meningkatkan apa yang sudah baik menjadi lebih baik lagi.
Dan karena konsep tidak melekat itu tadi saya menjadi lebih semeleh dalam hal apapun.

Yang keempat, mempelajari dhamma tidak harus jadi buddha. Karena buddha dhamma adalah konsep tentang hidup yang baik dan benar.
Dan buddha dhamma juga mengajarkan jika kamu mempercayai suatu agama, ya lakukanlah sesuai dengan agama yang kamu anut dan percaya.

Dan inilah cikal bakal saya menjadi lebih taat dan mau belajar tentang agama yang saya anut. Cara penyampaian ceramah para bhante yang penuh kedamaian, kasih dan cinta membuat saya luluh dan juga paham tentang konsep kehidupan dan tujuan hidup.
Para bhante ini berceramah namun tidak terasa seperti berceramah, hanya ngobrol saja layaknya manusia antar manusia pada umumnya, sejajar. Tidak merasa lebih tinggi. Jadi kita lebih menaruh rasa empati dan mau paham dengan apa yang disampaikan.

Saya saat ini jadi memiliki pemahaman bahwa apapun itu yang saya lakukan akan balik lagi ke diri saya sendiri jadi saya sekarang lebih berhati-hati dalam bertindak dan senantiasa berusaha untuk berbuat baik, benar dan bermoral.

Dan karena mempelajari dhamma hubungan saya dengan orang-orang terkasih, tersayang, tercinta jadi lebih baik lagi. Terutama hubungan saya dengan orangtua saya. Karena hidup tidak kekal maka saya harus gunakan waktu sebaik mungkin untuk membahagiakan mereka orang-orang yang saya cintai.
Lebih tidak gengsi lagi untuk mengekspresikan rasa sayang kepada orangtua. 
Karena bagaimanapun orangtua dan leluhur kita adalah orang-orang yang berjasa bagi hidup kita. 

Penderitaan adalah ketika mengharapkan orang lain untuk membahagiakan kita. Sedangkan kebahagiaan adalah ketika kita mau memberi dan membahagiakan orang lain. 

Sekian.

Mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya bila masih banyak salah ataupun kurang sependapat dengan apa yang saya sampaikan diatas.

Terima kasih. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dan ini pun akan berlalu

Di atas meja bilyar aku melepaskan dia yang lalu

Aku akan Bersedih dengan Khidmat